Tentang Anugerah Saparinah Sadli

Anugerah Saparinah Sadli adalah penghargaan dua tahunan yang bertujuan untuk memberikan inspirasi kepada masyarakat dan generasi penerus untuk terus bekerja demi terciptanya keadilan jender di Indonesia.

Berangkat dari keprihatinan terhadap meningkatnya kekerasan terhadap perempuan dan ketidakadilan jender di Indonesia, para sahabat merasa perlu diselenggarakan suatu penghargaan khusus bagi perempuan yang telah berjasa dalam menegakkan keadilan jender dan menciptakan budaya damai di Indonesia. Anugerah Saparinah Sadli digagas oleh sahabat dan rekan-rekan Saparinah Sadli dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun Saparinah Sadli yang ke 76 tahun 2002.

Anugerah ini terinspirasi oleh sosok Saparinah Sadli akademisi yang kemudian menjadi pegiat keadilan jender yang gigih, tekun, dan konsisten, dalam berbagai aktivitas yan dilakukannya baik di bidang penelitian, pendidikan serta advokasi dalam upaya mencapai kesetaraan dan keadilan bagi perempuan. Anugerah Saparinah Sadli telah diselenggarakan selama 14 tahun terakhir dan telah menghasilkan enam perempuan luar biasa Indonesia yang telah menjadi teladan dan inspirasi bagi perempuan Indonesia.

Penggagas Anugerah Saparinah Sadli

Para Penggagas Anugerah Saparinah Sadli adalah Astri Rasyid, Carla Bianpoen, Kristi Purwandari, Debra H Yatim, Ery Seda, Hermandari, Mari Elka Pangestu, Mayling Oey-Gardiner, dan Smita Notosusanto


Syarat Nominasi Penerima Anugerah

Kriteria umum penerima Saparinah Sadli Award :

  1. Perempuan

  2. Selama 10 tahun berperan aktif memberikan inspirasi, mempengaruhi masyarakat dan bekerja untuk kemajuan masyarakat yang pluralis dan inklusif

  3. Belum pernah mendapat pengharggan serupa di tingkat nasional

  4. Diusulkan oleh orang lain atau lembaga yang kredibel


Dana Abadi Anugerah Saparinah Sadli

Pembiayaan Anugerah Saparinah Sadli ditanggung dari berbagai sumbangan individu, lembaga dan perusahaan yang mendukung prakarsa ini. Namun tantangan pembiayaan tetap menjadi tantangan terbesar bagi penyelengara yang selama duabelas tahun terakhir selalu konsisten tetap meyelenggarakan Anugerah Saparinah Sadli

Untuk itu, pada tahun ke 12 dan penyelenggaraan ke enam Anugerah Saparinah Sadli di tahun 2016 ini, maka penyelenggaraan akan meluncurkan kampanye penggalangan dana untun Dana Abadi Anugerah Saparinah Sadli. Dana Abadi ini diharapkan dapat secara permanen mendukung penyelenggaraa Anugerah Saparinah Sadli dalam menemukan individu-individu perempuan-perempuan luar biasa Indonesia


Tema Anugerah Saparinah Sadli


Tema Anugerah 2018

Tema Anugerah Saparinah Sadli tahun 2018 adalah Keteladanan Pemimpin Perempuan Dalam Kebinekaan Masyarakat Indonesia.

Read more..

Tema Anugerah 2016

Tema Anugerah Saparinah Sadli tahun 2016 adalah Hapuskan Perkawinan Anak Perempuan. Tema ini dipilih karena keprihatinan terhadap tingginya fenomena perkawinan anak perempuan di Indonesia. Indonesia kini menduduki peringkat ke 2 tertinggi di Asean sesudah Kamboja dalam hal perkawinan anak. Bahkan di kalangan negara-negara Islam, Indonesia duduk pada peringkat ke 22.

Read more..

Tema Anugerah 2014

Anugerah Saparinah Sadli 2014 memilih tema Perempuan Penyelenggara Kebijakan Publik Tingkat Lokal. Tema ini dipilih karena pentingnya peran penyelenggara kebijakan publik di tingkat lokal dalam menjalankan kebijakan publik dasar seperti kesehatan, pendikikan dan infrastruktur desa yang sangat berarti bagi kelompok masyarakat miskin.

Read more..

Tema Anugerah 2012

Anugerah Saparinah Sadli 2012 bertema Keadilan Jender, Budaya Damai dan Multikulturalisme. Tema ini dipilih karena keadilan jender pada dasarnya lahir dari konteks masyarakat yang menghormati dan menghargai keberadaan budaya.

Read more..

Tema Anugerah 2004-2010


Penerima Anugerah Saparinah Sadli

  • Maria Ulfah Anshor
  • pernah menjadi Ketua Umum PP Fatayat NU, organisasi perempuan di bawah Nahdlatul Ulama, juga sebagai SekJen Alimat, gerakan untuk kesetaraan dan keadilan dalam keluarga muslim, mendedikasikan upayanya untuk mengatasi masalah yang dihadapi perempuan terutama reformasi hukum keluarga di Indonesia. Penelitiannya berjudul Fiqih Aborsi Alternatif untuk Penguatan Hak-hak Reproduksi Perempuan serta pengabdiannya melalui berbagai posisi dan perannya dalam organisasi mengantarnya menjadi penerima Anugerah Saparinah Sadli yang pertama di tahun 2004.

  • Aleta Ba'un
  • Aleta Baun, “Ma Leta”, memimpin warga kampungnya di Molo, Timor, untuk melawan pertambangan yang merusak alam di sekitar mereka. Menghadapi teror fisik, mental, bahkan ancaman pembunuhan, Ma Leta memimpin ratusan warga untuk duduk menenun di lokasi pertambangan untuk menghambat aktivitas. Kepemimpinan, keteguhannya serta usahanya memberdayakan masyarakat adat membuatnya menjadi salah satu pemenang Anugerah Saparinah Sadli di tahun 2007.

  • Mutmainah Korona
  • sebagai salah satu Direktur Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) Sulawesi Tengah, berhasil mendorong salah satu Peraturan Daerah yang mengatur partisipasi politik perempuan di tingkat desa di Kabupaten Donggala. KPPA sendiri berfokus pada pendampingan, pendidikan dan advokasi kebijakan perempuan dan anak. Atas perjuangannya ini Mutmainah menjadi salah satu penerima Anugerah Saparinah Sadli tahun 2007.

  • Nani Zulminarni
  • Nani Zulminarni melalui program pemberdayaan perempuan pencari nafkah yaitu Pekka, telah membantu ribuan keluarga miskin. Para perempuan yang mengikuti program Pekka sebagian besar buta huruf dan tak pernah mengikuti pendidikan formal, namun tiap orang rata-rata menafkahi 6 orang. Untuk perjuangannya memberdayakan perempuan dari segi ekonomi dan sosial, Nani terpilih menjadi penerima Anugerah Saparinah Sadli di tahun 2010.

  • Baihajar Tualeka
  • Baihajar Tualeka asal Ambon, sejak 2002 aktif di Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LAPPAN) yang didirikan pasca konflik sektarian disana. Awalnya Bai ikut serta dalam konflik karena percaya bahwa hal itu termasuk penegakkan agama. Namun, menyaksikan pembunuhan brutal dalam konflik, Bai pun berbalik menjadi seorang aktivis perdamaian, menjalankan berbagai upaya untuk menjalin perdamaian serta mendukung berbagai isu jender, resolusi konflik, penanganan kekerasan dan isu pelanggaran HAM lainnya. Untuk itu, Bai yang dijuluki Kartini perdamaian ini menjadi penerima Anugerah Saparinah Sadli di tahun 2012.

  • Asnaini
  • Asnaini, kepala desa perempuan pertama di Desa Pegasing, Aceh Tengah, berhasil meningkatkan kesejahteraan warganya dari mulai mendatangkan listrik ke desanya, menghidupkan kembali Posyandu dengan perbaikan fasilitas serta bidan tetap, mengusahakan kas desa, juga penyuluhan petani kopi untuk meningkatkan pendapatan desa. Perjuangan Asnaini yang mantan Ketua Kelompok Simpan Pinjam khusus perempuan Ceding Ayu ini membawanya menjadi penerima Anugerah Saparinah Sadli tahun 2014.


    Design Logo oleh Astari Rasjid

    Logo Anugerah Saparinah Sadli

    Bentuk logo Anugerah Saparinah Sadli merupakan adaptasi dari perhiasan bros Taka, yang secara tradisional dikenakan perempuan saat upacara di Maluku Utara. Logo juga menggambarkan bentuk uterus dan dua kuntum bunga lotus yang menggambarkan semangat siklus kehidupan yang dibawa kaum perempuan masa kini dalam upaya mereka membawa kemajuan bagi berbagai aspek kehidupan. Bentuk logo Anugerah Saparinah Sadli merupakan adaptasi dari perhiasan bros Taka, yang secara tradisional dikenakan perempuan saat upacara di Maluku Utara. Logo juga menggambarkan bentuk uterus dan dua kuntum bunga lotus yang menggambarkan semangat siklus kehidupan yang dibawa kaum perempuan masa kini dalam upaya mereka membawa kemajuan bagi berbagai aspek kehidupan.