;



Press Coverage Tahun 2016

90 Tahun Saparinah Sadli, Sri Wahyuningsih Terpilih Sebagai Penerima Anugerah 2016

Gelaran acara Anugerah Saparinah Sadli 2016 di Manggala Wanabakti, Jakarta, Rabu (24/8-2016) berlangsung meriah. "Hapuskan Perkawinan Anak Perempuan" adalah tema Anugerah Saparinah Sadli kali ini. Tema ini dipilih atas dasar keprihatinan akan tingginya tingkat perkawinan anak di Indonesia.

Indonesia tercatat menduduki peringkat ke-2 tertinggi perkawinan anak di ASEAN setelah Kamboja, bahkan di kalangan negara Islam, Indonesia berada di peringkat ke-22. Menurut Data Badan Pusat Statistik tahun 2008 34,5% anak perempuan di Indonesia menikah pada usia kurang dari 19 tahun.

Read more..


Saparinah Sadli - The Golden Years

Hand in hand: Saparinah (left) and senior journalist and publisher Herawati Diah (right) pose during a demonstration in front of Hotel Indonesia in this 1999 photo. (Courtesy of Saparinah)

A nation-builder and trailblazer in gender issues and human rights, Saparinah Sadli turns 90 on Wednesday, the day that also marks the first time she became involved in an award for young women leaders.

This year’s Saparinah Sadli Award, founded by Smita Notosusanto, Hermandari Kartowisastro, Mayling Oey-Gardiner, Mari Pangestu, Kristi Poerwandari, Debra Yatim, Ery Seda, Astari Rasjid and Carla Bianpoen, will go to women whose work in society is in line with Saparinah’s.

Read more..


90 TAHUN SAPARINAH SADLI: Pemberdayaan Perempuan Membaik

Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia Saparinah Sadli merayakan ulang tahun ke-90 pada Rabu (24/8). Berbagai prestasi telah ia ukir, baik di dalam maupun di luar dunia akademis.

Hal yang paling dikenal dari sosok Saparinah adalah kepeduliannya kepada pemenuhan hak asasi manusia (HAM). Ketika menjabat sebagai salah satu komisioner di Komisi Nasional HAM, ia bergabung dengan Tim Gabungan Pencari Fakta yang bertugas mengungkapkan berbagai kekejian yang terjadi pada Tragedi Mei 1998.

Keaktifannya ini kemudian menjadikan Saparinah sebagai salah satu tokoh yang membidani lahirnya Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pada 15 Oktober 1998. Ia pun dipercaya menjadi ketua Komnas Perempuan yang pertama.

Read more..


ANUGERAH SAPARINAH SADLI 2016

Jakarta, Konde.co - Anugerah Saparinah Sadli yang ke-6 di tahun 2016 ini, diberikan kepada Sri Wahyuningsih, seorang guru SMP Tamanan di Bondowoso, Jawa Tengah yang selama ini banyak memberikan penyuluhan kesehatan reproduksi dan dampak perkawinan anak. Penghargaan diberikan pada Rabu (25/082016) kemarin di Jakarta.

Tema Saparinah Sadli Award di tahun 2016 ini adalah Hapuskan Perkawinan Anak Perempuan. Dalam saparinahsadli.org dituliskan bahwa tema ini dipilih karena keprihatinan terhadap tingginya fenomena perkawinan anak perempuan di Indonesia.

Read more..


Guru Mitra Kinerja Menang Award Saparinah Sadli 2016

Seorang guru dan jurnalis warga dari salah satu sekolah mitra Kinerja USAID di Bondowoso, Jawa Timur, telah menang Award Saparinah Sadli yang bergengsi buat tahun 2016. Sri Wahyuningsih, yang biasanya dipanggil Ibu Sri, adalah salah seorang pendiri dan anggota Paguyuban Guru Peduli Kesehatan Reproduksi (PGP Kespro) yang berjuang untuk menghapus pernikahan anak di daerahnya.

Ibu Yuni mengajar siswa di SMP Tambanan di Bondowoso tentang bahayanya pernikahan dini. Walaupun pengetahuan kesehatan reproduksi (kespro) masih dianggap tabu, dia melakukan ini karena dia percaya bahwa tanpa informasi tersebut, tingkat pernikahan anak tidak dapat dikurangi.

“Alhamdulilah, [menang award ini] luar biasa tidak menyangk,” Ibu Yuni memberitahu Kinerja. "Karena memang saya melakukan ini karena panggilan hati. Tidak pernah terbesit sedikitpun akan dapat apresiasi luar biasa dari Award Saparinah Sadli!”

Read more..


Guru SMP Dari Bondowoso Penerima Anugerah Saparinah Sadli 2016

Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia Saparinah Sadli merayakan ulang tahun ke-90 pada Rabu (24/8). Berbagai prestasi telah ia ukir, baik di dalam maupun di luar dunia akademis. Hal yang paling dikenal dari sosok Saparinah adalah kepeduliannya kepada pemenuhan hak asasi manusia (HAM). Ketika menjabat sebagai salah satu komisioner di Komisi Nasional HAM, ia bergabung dengan Tim Gabungan Pencari Fakta yang bertugas mengungkapkan kejadian pada Tragedi Mei 1998. Keaktifannya ini kemudian menjadikan Saparinah sebagai salah satu tokoh yang membidani lahirnya Komisi Nasional Anti kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pada 15 Oktober 1998. Ia pun dipercaya menjadi ketua Komnas Perempuan yang pertama.

Read more..


Malam Anugerah Saparinah Sadli 2016: Tingkat Perkawinan Anak Perempuan di Indonesia Menurun Jadi 15,37%

Rabu malam (24/8), tepuk tangan meriah memenuhi ruang Rimbawan I Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, saat cendekiawan wanita Saparinah Sadli menyerahkan piala Anugerah Saparinah Sadli kepada Sri Wahyuningsih. Yuni, begitu ia biasa dipanggil, terpilih menerima penghargaan itu karena konsistensinya dalam menyampaikan informasi kesehatan reproduksi dan pesan-pesan pencegahan perkawinan anak kepada para siswa, orang tua, dan masyarakat di Bondowoso, Jawa Timur.

Tema ‘Hapuskan Perkawinan Anak Perempuan’ dipilih atas dasar keprihatinan terhadap tingginya praktik pernikahan anak perempuan di Indonesia. Sebab, saat ini Indonesia tercatat menduduki peringkat ke-2 tertinggi, setelah Kamboja, untuk perkawinan anak. Bahkan, data Badan Pusat Statistik tahun 2008 menunjukkan 34,5 persen anak perempuan di Indonesia menikah saat usia mereka belum 19 tahun.

“Perkawinan anak merupakan pelanggaran hak asasi manusia karena sudah pasti merampas hak anak untuk bermain, bersekolah, bergaul, dan berbahagia,” ujar Dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH selaku pakar kesehatan masyarakat pada pidatonya malam itu. Ia juga menekankan, perkawinan anak terkait erat dengan pendidikan rendah yang membuat mereka sulit mencari pekerjaan layak sehingga menyebabkan kemiskinan berkelanjutan.

Read more..


Saparinah Sadli Award 2016: Stop Child Marriage

TEMPO.CO, Jakarta - The Saparinah Sadli Award 2016 goes to a local woman from Bondowoso district, East Java, Sri Wahyuningsih. She has successfully created an event on child marriage aiming to educate kids and teenagers about the health of reproduction organ and how to stop the rising number of early pregnancy. She is claimed to strongly contribute to the decreasing amount of number on child marriage in her area.

As a teacher, Sri Wahyuningsih or Yuni educates and gives counseling about child marriage to her students. It is to minimize the negative impacts from the early pregnancy that is often caused by child marriage.

Read more..


Press Coverage Tahun 2014

Anugerah Saparinah Sadli Resmi Dibuka

Dalam acara Powerlunch "Wanita Bicara" yang diselenggarakan oleh Femina pada 29 April 2014 yang lalu di Annex Building Jakarta, yang menghadirkan Kartini-Kartini modern yang inspiratif, sebut saja dr. Nafsiah Mboi, Linda Amalia Sari, Anis Hidayah, Nia Dinata, Puan Maharani, dan lain-lain, rasanya tepat sekali bila dalam momen tersebut disampaikan pula mengenai penyelenggaraan Anugerah Saparinah Sadli 2014.

Read more..


Saparinah Sadli: A Feminist Transformation

Courtesy of Bachren LukskardinulWhen you hear the word “feminist”, what’s the stereotype that comes to mind? Is it something negative like a man-hating, unattractive women with hairy armpits screaming aggressively about imagined insults?

If you met one of Indonesia’s leading feminists, Saparinah Sadli, 84, you’d laugh out loud at the absurdity of this stereotype. If anything, I associate Bu Sap (as she is usually known) with warmth, smiles, laughter and modesty — she is someone who never pulls rank.

Read more..


Asnaini, Pemenang Anugerah Saparinah Sadli 2014

“Saya berani menempatkan wanita di jajaran kepemimpinan dinas PU dan Pemadam Kebakaran, yang sebelumnya selalu dipegang pria, karena saya percaya, wanita bisa memimpin dengan hati.” Kalimat yang disampaikan oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, langsung mendapat sambutan meriah pada Malam Anugerah Saparinah Sadli tanggal 26 September 2014.

Kemampuan wanita untuk menggunakan hati saat bekerja dan memimpin, dibuktikan secara nyata melalui kinerja tiga finalis Anugerah Saparinah Sadli 2014: Asnaini (Kepala Desa Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah), Juliana Ratuanak (Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara Barat), dan Nurhayati (Kepala Desa Pitusungu, Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan). Ketiganya mengandalkan naluri mereka sebagai wanita untuk membawa membawa perubahan yang positif dalam lingkup kerjanya.

Read more..


Anugerah Saparinah Sadli; Asnaini Sukses Terobos Tradisi Kepemimpinan

Asnaini, Kepala Desa Pegasing, Aceh Tengah, Provinsi Aceh, dianugerahi Anugerah Saparinah Sadli 2014, kamis (25/9) malam. Penghargaan tersebut diberikan atas keberhasilannya menerobos tradisi kepemimpinan perempuan yang masih jarang terjadi di Aceh.

Anugerah Saparinah Sadli merupakan bentuk apresiasi kepada perempuan Indonesia yang mampu mewujudkan keadilan jender di Tanah Air.

Read more..


Press Coverage Tahun 2012

Anugerah Saparinah Sadli 2012 Untuk Aktivis Perempuan Ambon

Buah positif dari perjuangan membentuk dialog antaragama

13 tahun lalu, Baihajar Tualeka percaya bahwa saat menghadap Tuhan, ia akan masuk surga. Pada saat itu, aktivitas yang ia lakukan terbilang ekstrem; membuat bom molotov dan ketapel yang digunakan untuk melakukan perlawanan terhadap kelompok agama lain.

Pada era tersebut, Ambon layaknya neraka, terbakar perseteruan. Konflik horizontal antar agama menyulut kota indah penuh pesona itu menjadi arena konflik yang menakutkan. Perempuan kelahiran 1974 itu terlibat.

Read more..


Tualeka Sumbangkan Penghargaan Saparinah Sadli Untuk Ambon

Ambon (Antara Maluku) - Direktur Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LAPPAN), Bai Hadjar Tualeka, menyumbangkan Rp30 juta dari penghargaan Saparinah Sadli Award kepada perempuan korban bentrok antarwarga di Ambon pada 11 September 2011.

"Bonus uang tunai Rp30 juta yang saya dapat dari penghargaan Saparinah Sadli kemarin (7/11) akan disumbangkan untuk membangun rumah memorialisasi dan pemulihan perempuan di wilayah konflik," kata Bai Hadjar Tualeka kepada ANTARA di Ambon, Minggu.

Tidak hanya rumah memorialisasi dan pemulihan, Tualeka juga berencana membangun rumah belajar bersama untuk gerakan perempuan dengan uang tersebut, di kawasan Waringin, Kecamatan Nusaniwe.

Read more..


Indonesians In Focus: Saparinah Sadli

For many people in Indonesia and abroad, Saparinah Sadli is a sunny smile, a leader whose power lies in a graceful frankness, a mentor who inspires her students, an activist whose democratic character welcomes young and old to have their say, a friend and sparring partner of sorts and a bridge that brings together the values of the old and the new ideas of the young.

Read more..


Saparinah Sadli Memimpikan Kota Ramah Manula

Saparinah Sadli tampak segar dan gesit di usianya yang menjelang 86 tahun. Ia masih membimbing tesis dan menguji mahasiswa program pascasarjana di Fakultas Psikologi dan Kajian Gender Universitas Indonesia. Puluhan tahun ia aktif menyuarakan dan memperjuangkan keadilan bagi perempuan. Kali ini ada hal yang tak kalah penting baginya.

Read more..


Merlyn Sopjan (Transgender) Kandidat Saparinah Sadli Award 2012

Ourvoice.or.id – Peraih Saparinah Sadli Award 2012, Baihadjar Tualeka, seorang aktivis perempuan dan koordinator LAPPAN (Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Anak) dari Ambon. Bai, biasa dipanggil selama ini bekerja untuk resolusi konflik sektarian antara kelompok Islam dan Kristen di Ambon pada 1999.

Bai awalnya justru seseorang yang ikut membuat bom molotov untuk melawan kelompok Kristen saat konflik sektarian tersebut. Bai awalnya meyakini kalau dirinya mati karena konflik, maka dirinya akan masuk surga karena telah berjihad menegakan agama. Pandangannya kemudian berubah saat dirinya meyaksikan sendiri seorang laki-laki dibunuh dengan cara di cincang secara brutal. Saat itu dirinya berpikir, mengapa manusia mampu membunuh mengatasnamakan agama? Moment itulah membuat kemudian mendirikan lembaga LAPPAN.

Read more..


Baihadjar, Aktivis Ambon Peraih Saparinah Sadli Award

Mengangkat tema keadilan jender, budaya damai, dan multikulturalisme, anugerah Saparinah Sadli tahun ini diserahkan kepada Baihadjar Tualeka, seorang aktivis perempuan dan koordinator LAPPAN (Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Anak).

Bertempat di Restoran Palalada, Alun-Alun Grand Indonesia pada Rabu, 7 November, penghargaan yang diperuntukkan Bai – sapaan akrab Baihadjar Tualeka ini dihasilkan dari pemilihan dewan juri tahun ini yang terdiri dari Prof. Dr. Musdah Mulia (pengajar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, aktivis perempuan, dan peneliti), Neles Tebay (pastur di Papua Barat dan Rektor Sekolah Teologi dan Filsafat Fajar Timur, koordinator Jaringan Papua Damai), Nia Di Nata (sutradara dan produser film), Ramdan Malik (Produser Eksekutif MNCTV), dan Nani Buntarian (aktivis perempuan dan penggiat di bidang HIV/AIDS).

Read more..


Tualeka Sumbangkan Penghargaan Saparinah Sadli Untuk Ambon

Ambon (Antara Maluku) - Direktur Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LAPPAN), Bai Hadjar Tualeka, menyumbangkan Rp30 juta dari penghargaan Saparinah Sadli Award kepada perempuan korban bentrok antarwarga di Ambon pada 11 September 2011.

"Bonus uang tunai Rp30 juta yang saya dapat dari penghargaan Saparinah Sadli kemarin (7/11) akan disumbangkan untuk membangun rumah memorialisasi dan pemulihan perempuan di wilayah konflik," kata Bai Hadjar Tualeka kepada ANTARA di Ambon, Minggu.

Tidak hanya rumah memorialisasi dan pemulihan, Tualeka juga berencana membangun rumah belajar bersama untuk gerakan perempuan dengan uang tersebut, di kawasan Waringin, Kecamatan Nusaniwe.

Read more..


Press Coverage Tahun 2004

Fikih Aborsi Antarkan Maria Ulfa Peroleh Saparinah Sadli Award

Jakarta, NU Online Pucuk Pimpinan Fatayat NU Maria Ulfa Anshori beberapa waktu lalu menerima penghargaan Saparinah Sadli Award atas komitmennya dalam memperjuangkan nasib perempuan sekaligus penghargaan atas karyanya “Fikih Aborsi Alternatif bagi Penguatan Hak Reproduksi Perempuan.”

Saat ini perempuan yang mengalami kehamilan tidak dikehendaki (KDT) yang berakhir dengan penghentian kehamilan selalu dalam posisi yang selalu dipersalahkan, baik secara hukum agama maupun norma masyarakat “Kondisi ini mencerminkan adanya diskriminasi terhadap perempuan, bahkan mengisolir persoalan aborsi hanya dibebankan kepada perempuan,” ungkapnya kepada NU Online kemarin.

Read more..