• Penerima Anugerah Saparinah Sadli tahun 2016

  • Sri Wahyuningsih

    Perempuan kelahiran Bondowoso 24 April 1978 ini merupakan salah satu perintis dari Paguyuban Guru Peduli Kesehatan Reproduksi (PGP Kespro), yang didirikan berdasarkan komitmen dari sekelompok guru di Kabupaten Bondowoso yang ingin mensosialisasikan pentingnya upaya pencegahan pernikahan dini (perkawinan usia anak) dan dampak buruknya terhadap anak. Ia berhasil mendapatkan komitmen para guru SMP Negeri dan Madrasah dari 5 kecamatan Bondowoso yang tergerak setelah mengikuti pelatihan tentang Kesehatan Reproduksi hasil kerjasama Yayasan Kesehatan Perempuan dan Bupati Bondowoso sejak tahun 2012. Saat ini Yuni yang berprofesi sebagai guru mengajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) di SMPN 1 Tamanan, Bondowoso. Dalam perannya di bidang pendidikan Kesehatan Reproduksi, ia sering mengunjungi dan diundang ke berbagai tempat dan desa untuk menyampaikan materi pendidikan Kesehatan Reproduksi kepada berbagai kelompok diantara-nya siswa, orang tua, bahkan juga kepada tenaga kesehatan di lapangan.


  • Penerima Anugerah Saparinah Sadli tahun 2014

  • Asnaini Mirzan

    Perempuan kelahiran 24 Januari 1971 ini adalah Reje Kampung (Kepala Kampung) perempuan pertama di desanya di Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah. Ia memperjuangkan suara dan hak perempuan walaupun kultur di Kabupaten Aceh Tengah masih menganggap pemimpin perempuan sebagai hal yang tabu. Asnaini telah mendobrak stigma di adat Aceh Tengah tersebut dengan kinerja dan jiwa kepemimpinan yang tinggi.

    Asnaini terpilih menjadi Reje Kampung tahun 2011 secara demokratis, dan sejak itu, ibu rumah tangga dengan tiga anak ini tak berhenti berjuang untuk menggerakkan roda pemerintahan di desanya. Kegigihan Asnaini kerap menjadi perhatian masyarakat serta media massa lokal dan nasional. Asnaini mendatangi rumah warga satu per satu untuk mengumpulkan KTP agar listrik bisa masuk desa Pegasing. Hasil perjuangannya: Dusun Luwung di Desa Pegasing kini terang benderang dialiri listrik, melalui 100 tiang listrik terpancang disana.


  • Penerima Anugerah Saparinah Sadli tahun 2012

  • Baihajar Tualeka

    Perempuan kelahiran tahun 1974 ini adalah seorang aktivis perempuan dan koordinator LAPPAN (Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Anak) di Ambon, Maluku sejak 2002. LAPPAN didirikan paska konflik sektarian antara kelompok Islam dan Kristen di Ambon tahun 1999 dan fokus kerjanya adalah dalam isu pemulihan paska konflik (peace maker) terutama untuk pendidikan dan counseling bagi anak-anak di pengungsian.

    Pada awalnya Baihajar, atau Bai, ikut dalam konflik sektarian itu sebagai asisten pembuat bom molotov dan slingshot untuk melawan kelompok agama Kristen pada konflik yang pecah di Ambon di tahun 1999 karena percaya kalaupun ia mati karena konflik, ia pasti akan masuk surga karena melakukan jihad untuk menegakkan agama.

    Pandangannya berubah manakala ia dengan mata kepala sendiri menyaksikan seorang laki-laki secara brutal di cincang sampai mati ketika tertangkap oleh lawannya. Ia kemudian berpikir mengapa manusia harus saling membunuh mengatasnamakan agama yang sebetulnya didorong oleh motivasi lain. Bersandar pada pandangan baru tadi ia dengan beberapa rekannya mendirikan LAPPAN yang menyediakan layanan pendidikan dan counseling untuk masyarakat lintas agama Muslim dan Kristen di Ambon.


  • Penerima Anugerah Saparinah Sadli tahun 2010


  • Nani Zulminarni

    Nani Zulminarni memimpin Pekka, sebuah program pemberdayaan yang membantu perempuan mencari nafkah bagi keluarga. Program ini telah membantu lebih dari sepuluh ribu keluarga, melalui lebih dari seribu kelompok di berbagai provinsi di Indonesia dengan pelatihan usaha maupun keuangan. Menurutnya, rumah tangga yang dinafkahi perempuan biasanya termasuk yang termiskin: 6 juta perempuan pemimpin keluarga menafkahi sekitar 30 juta orang (sensus nasional 2007). Lebih dari 38 persen dari peserta program Pekka buta huruf dan tak pernah mengenyam pendidikan formal, biasanya menafkahi 6 orang tanggungan, dan bekerja sebagai buruh tani atau di sektor informal lain termasuk usaha kecil.

    Semangat para anggota Pekka yang berhasil mengembangkan diri dan menafkahi keluarganya menginspirasi Nani untuk terus berjuang. Ia menjelaskan bahwa diskriminasi terhadap perempuan berasal dari interpretasi teks relijius yang menempatkan perempuan lebih rendah. Nani yakin ada cara lain yang lebih adil untuk menginterpretasikan teks relijius. "Perempuan mempunyai pilihan, dan perempuan harus dapat mengambil keputusan yang cerdas dalam hidupnya," katanya.


  • Penerima Anugerah Saparinah Sadli tahun 2007


  • 1. Aleta Ba'un

    Aleta Ba'un atau "Ma Leta" dipercaya warga kampungnya di Molo, pulau Timor, sebagai koordinator Ataiamamus, yang dibentuk untuk menolak eksploitasi pertambangan disana. "Kalau sumber daya alam di Molo rusak (oleh pertambangan), maka Nusa Tenggara Timur akan menderita kekeringan karena mata air ada di Molo. Kami adalah petani, tak bisa lepas dari alam," kata Ma Leta yang kemudian harus menghadapi teror fisik dan mental, fitnah terhadap reputasi keluarganya bahkan juga ancaman pembunuhan.

    Pada saat itu, di daerah pegunungan Molo terdapat 42 desa dengan jumlah keluarga sekitar 3000. Ma Leta tidak menggerakkan warga untuk berdemo, tapi ratusan dari mereka hadir di lokasi pertambangan untuk duduk menenun selama berbulan-bulan. Ia bekerja sama dengan para pemimpin komunitas adat untuk mengembangkan program pemberdayaan masyarakat adat. Ma Leta menggunakan dana dari Anugerah Saparinah Sadli yang diterimanya tahun 2007 untuk membangun rumah belajar bagi warga. Dengan dana yang dikumpulkan warga mereka dapat menyelenggarakan festival budaya tahunan sejak 2010. Kisah perjuangan Molo ini menjadi salah satu kisah yang diangkat di Festival Film South to Southwest tahun 2012.


    2. Mutmainah Korona

    Mutmainah Korona pernah aktif sebagai Direktur Komunitas Peduli Perempuan dan Anak(KPPA) Sulawesi Tengah (berdiri pada tahun 2001) yang fokus pada pekerjaan perbandingan, pembelaan, penguatan, pengorganisasian, pendidikan, dan advokasi kebijakan perempuan serta anak.

    Salah satu prestasi KPPA adalah menggolkan sebuah Peraturan Daerah yang mengatur partisipasi politik perempuan di tingkat desa di Kabupaten Donggala, yaitu PERDA kab. Donggala no.12 tahun 2006 tentang partisipasi dan Keterwakilan Perempuan dalam pemerintahan Desa, Lembaga Kemasyarakatan Desa, dan Proses Pembangunan Desa. Atas perjuangannya dalam advokasi Perda sensitif jender di Sulawesi Tengah ini, Mutmainah menjadi salah satu penerima Anugerah Saparinah Sadli 2007


  • Penerima Anugerah Saparinah Sadli tahun 2004

  • Maria Ulfah Anshor

    Maria pernah menjabat sebagai Ketua Umum PP Fatayat NU, organisasi perempuan di bawah Nahdlatul Ulama (NU), periode 2000-2005. Keinginan memperdalam masalah perempuan mendorongnya menyelesaikan S2 di Program Kajian Wanita Program Pascasarjana Universitas Indonesia setelah sebelumnya belajar di Institut Ilmu Al-Quran Jakarta. Atas dedikasi tinggi dan aktivitasnya di Fatayat dan dalam penelitian, dia pun mendapat Anugerah Saparinah Sadli, yang diserahkan langsung oleh Prof Dr Saparinah Sadli bulan Agustus 2004.

    Maria menerima anugerah tersebut atas penelitiannya berjudul Fiqih Aborsi Alternatif untuk Penguatan Hak-hak Reproduksi Perempuan. Pada tahun 2009 terpilih sebagai Sekretaris Jendral (Sekjen) Alimat, gerakan untuk kesetaraan dan keadilan dalam masalah pendidikan maupun hak-hak anak yang telah mengantarnya menjadi komisioner di Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).