;



Anugerah Saparinah Sadli Tahun 2012


Tema keadilan jender, Budaya Damai dan Multikulturalisme

Tahun 2012 ini, Anugerah Saparinah Sadli bertema Keadilan Jender, Budaya Damai dan Multikulturalisme. Tema ini dipilih karena keadilan jender pada dasarnya lahir dari konteks masyarakat yang menghormati dan menghargai keberadaan budaya. Jender sendiri merupakan suatu konstruksi sosial yang dibentuk oleh nilai-nilai adat, tradisi, budaya, agama, yang berlangsung sejak seorang dilahirkan secara biologis dan kemudian belajar menjadi manusia yang beradab. Tema ini juga dipilih karena keprihatinan akan berbagai insiden di tanah air yang menggambarkan kemunduran dalam penghormatan terhadap keragaman agama dan budaya yang sebenarnya dilindungi oleh Konstitusi kita dan selama ini menjadi perekat jati diri kita sebagai suatu bangsa.

Sambutan

Bapak, Ibu dan Saudara sekalian, Kami mengucapkan terimakasih atas kesediaan bapak, ibu dan saudara untuk meringankan langkah menghadiri Acara Pemberian Anugerah Saparinah Sadli Tahun Ini Saparinah Sadli telah menginjak usia ke 10 sejak diluncurkan tahun 2002 Sejak Awal, kami para penggagas dan panitia Anugerah Saparinah Sadli tetap berpegang teguh pada kriteria penerima Anugerah, yaitu perempuan Indonesia yang gigih dan berani memperjuangkan keadilan, terutama bagi perempuan Kami bangga bahwa pada tahun ke 10 ini, kami telah dapat menyampaikan Anugerah kepada perempuan-perempuan Indonesian yang luar biasa: Maria Ulfah Ansor pada tahun 2004, Aleta Ba'un dan Mutmainah koro pada tahun 2007 serta Nani Zulminarni pada tahun 2010. Malam ini, seorang perempuan luar biasa akan menambah daftar pemenang Anugerah Saparinah Sadli.

Selama satu dekade ini, tema Anugerah Saparinah Sadli selalu berkembang dan dinamis, mengikuti perkembangan dalam masyarakat, serta senantiasa berpegang teguh pada tujuan utama untuk menciptakan keadilan jender. Tahun ini kami memilih tema Keadilan Jender, Budaya Damai, dan Multikulturalisme. Tema ini dipilih karena keadilan jender pada dasarnya lahir dari konteks masyarakat yang menghormati dan menghargai keberagaman budaya. Tema ini juga dipilih karena keprihatinan akan berbagai insiden di tanah air yang menggambarkan kemunduran dalam penghormatan terhadap keragaman agama dan budaya yang sebenarnya dilindungi oleh Konstitusi kita dan selama ini menjadi perekat jati diri kita sebagai suatu bangsa.

Proses penentuan tema kami lalui melalui diskusi kelompok dengan melibatkan beberapa tokoh dan rekan perempuan sejak Desember 2011. Langkah ini kemudian dilanjutkan dengan proses sosialisai dan penjaringan calon penerima yang cukup panjang. Untuk pertama kalinya kami membuka situs web khusus untuk Anugerah Saparinah Sadli, kami juga berterima kasih atas partisipasi rekan-rekan dimedia massa baik nasional maupun daerah dalam tahap sosialisasi ini, terutama kapada Majalah Femina yang telah mendedikasikan halaman khusus mengenai Anugerah ini pada bulan Agustus 2012. Dalam tahap penjaringan yang cukup panjang selama lebih dari empat bulan, kami menerima tidak kurang dari 22 nominasi dari berbagai wilayah di Indonesia. Para calon ini kemudian diseleksi berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan untuk tema Anugerah ini. Akhirnya Dewan Juri yang terdiri dari Musda Mulia, Neles Tebay, Ramdan Malik, Nani Buntarian, dan Nia Di Nata memberi keputusan akhir dan menetapkan penerima Anugerah Tahun ini.

Proses Penyelenggaraan tahun ini, bukan tanpa tantangan. Bagi kami, ternyata sulit membumikan tema ini pada konteks sepak terjang dan aktivitas para calon yang diajukan dan mudah dipahami public. Kami juga dapati bahwa tema ini adalah tema yang cukup sensitif, terutama di tingkat lokal.

Seperti tahun-tahun yang lalu, kami juga menghadapi tantangan dalam pendanaan. Mengingat seluruh kelembagaan dan kepanitiaan Anugerah berbasis sukarelawan, hal ini merupakan sebuah tantangan yang cukup sulit untuk kami atasi. Oleh karena itu kami sangat menghargai semua pihak yang telah bermurah hati untuk mengulurkan tangan dan membantu kami dalam pendanaan dan penyelenggaraan Anugerah Saparinah Sadli tahun ini: PT Indika Energi Tbk, PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk, The Body Shop Indonesia, Alun-alun Indonesia, PT Sewu Segar Nusantara.

Kami berharap pada malam ini, bapak, ibu dan saudara sekalian, dapat membantu kami untuk penyelenggaraan Anugerah Saparinah Sadli dua tahun kedepan dengan memberikan komitmen bantuan untuk penyelenggaraan Anugerah Saparinah Sadli yang akan datang. Pada Kesempatan ini saya sebagai Ketua Panitia juga ingin menyampaikan penghargaan setinggi-tinggina kepada para penggagas Anugerah Saparinah Sadli yang satu dekade yang lalu berinisiatif untuk meluncurkan Anugerah Saparinah Sadli: Astari Rasjid, Carla Bianpoen, Debra Yatim, Francisia Seda, Hermandari Kartowisastro, Kristi Purwandari, Mari Elka Pangestu dan Mayling Oey-Gardiner.

Akhirnya, last but not least, saya ingin menyampaikan terimakasih kepada Panitia Anugerah Saparinah Sadli tahun ini: Ani Sutjipto, Dana Iswara, Debra Yatim, Ery Seda, Miranty Abidin, dan Natalia Soebagjo yang telah meluangkan waktu untuk menyumbangkan tenaga, pikiran bagi penyelenggaraan anugerah tahun ini.

Profil Penerima Anugerah

  • Baihajar Tualeka

  • Baihajar Tualeka (lahir tahun 1974), aktivis perempuan dan koordinator LAPPAN(Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Anak) di Ambon, Maluku sejak 2002. LAPPAN didirikan paska konflik sektarian antara kelompok Islam dan Kristen di Ambon tahun 1999 dan fokus kerjanya adalah dalam isu pemulihan paska konflik (peace maker) terutama untuk pendidikan dan counseling untuk anak-anak di pengungsian.

    Bai sendiri awalnya ikut dalam konflik sektarian itu sebagai asisten pembuat bom molotov dan slingshot untuk melawan kelompok agama Kristen pada konflik yang pecah di Ambon di tahun 1999. Pada awalnya ia percaya kalaupun ia mati karena konflik, ia pasti akan masuk surga karena melakukan jihad untuk menegakkan agama.

    Pandangannya berubah manakala ia dengan mata kepala sendiri menyaksikan seorang laki-laki secara brutal di cincang sampai mati ketika tertangkap oleh lawannya. Ia kemudian tidak berhenti berpikir kenapa manusia harus saling membunuh mengatasnamakan agama, memanipulasi agama yang sebetulnya didorong oleh motivasi lain. Bersandar pada pandangan baru tadi ia dengan beberapa rekannya mendirikan LAPPAN yang menyediakan layanan pendidikan dan counseling untuk masyarakat lintas agama Muslim dan Kristen di Ambon.

    Selain LAPPAN, Bai juga melakukan reparasi untuk korban konflik yang diujicobakan lewat pembentukan Desa Waringin di lingkup lokal yang pendudukya memang sangat majemuk. Memoralisasi konflik sebagai proses pembelajaran agar tidak terulang lagi dilakukan dengan menamai jalan di desa dan gang karena mudah di ingat dan tidak membutuhkan biaya besar. Gang dinamai dengan kata yang memberikan spirit seperti Gang Anti Kekerasan, Gang kebangkitan dan lain-lain. Fokus saat ini diujicobakan di Desa Waringin yang terdiri dari 4 RT dimana salah satu RT-nya adalah RT-Muslim dan 3RT adalah RT Kristen (paska konflik Ambon, terjadi segregasi dalam tempat tinggal antara wilayahh Muslim dan wilayah Kristen).

    Bai adalah mempunyai rekam jejak panjang bekerja sebagai fasilitator, trainer, consultant, research assistant, field assistant, dan berpartisipasi aktif dalam banyak pelatihan seminar, workshop yang berkaitan dengan isu jender, resolusi konflik, penanganan kekerasan dan isu pelanggaran HAM lainnya.

    Profil Finalis

  • Maulani Rotinsulu

  • Maulani Agustiah Rotinsulu (lahir tahun 1962) adalah Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) sejak tahun 2011. Sebagai penyandang disabilitas(Amputasi tangan kanan bawah siku), Maulani Rotinsulu mempunyai rekam jejak pengalaman panjang dalam karir profesional di bidang disabilitas maupun dalam sejarah organisai disabilitas baik di tingkat nasional sejak 1982 sampai sekarang, yaitu ketua bidang hubungan luar negeri penyandang cacat indonesia, sekretaris umum himpunan wanita penyandang cacat Indonesia(HWPCI) maupun bendahara umum Pusat Pemilu akses bagi penyandang cacat( PPUA Penca) sejak 2006. Ditingkat regional dan internasional, Maulani adalah anggota aktif dewan regional Asia Pasific Disabled People Regional dan Internasional (DPI-world dan DPI-AP) 2006-2010.

    Salah satu pencapaian dari kerja-kerja profesisonal yang dilaukan adalah nominee dari Indonesian untuk Asia Pasific Championship Award for disability UNESCAP 2012. Dedikasinya untuk kerja pemberdayaan perempuan adalah dalam menyiapkan naskah akademis Convention on the Right of Person with disability(CRPD) dan anggota tim pengkaji bahan-bahan ratifikasi konvensi bekerja sama dengan Komnas HAM maupun Komnas Perempuan dalam kajian tentang peraturan yang mendiskriminasi hak penyandang cacat disabilitas (evektivitas undang-undang perkawinan, ketenagakerjaan, dan lalu lintas bagi para penyandang cacat) di tahun 2010-2011.

    Profil Juri

    1. Musdah Mulia

    Prof. Dr. Siti Musdah Mulia adalah seorang aktivis perempuan, peneliti, konselor, dan penulis di bidang keagamaan(Islam) di Indonesia. Menamatkan Program Pascasarjana S2 (1992) dan S3 (1997) di Instuti Agama Islam Syarif Hidayatullah, Jakarta.

    Beliau memperoleh Profesor Riset dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2003. Saat ini beliau mengajar S2 dan S3 di bidang Pemikiran Politik Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Sejak 2007, Prof Musdah menjabat sebagai Direktur pada Indonesian Conference of Region Peace (ICRP), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang aktif mengupayakan dialog antar iman, plularisme, dan demokrasi untuk perdamaian.

    Pernah juga ia menjabat sebagai penasihat senior untuk Mentri Agama RI (1999-2007), dan melalui institusi tersebut dan dalam kapasitasnya sebagai koordinator tim pengarus-utamaan gender pada tahun 2004 berhasil diluncurkan Kontra Hukum: Draft Kompilasi HUkum Islam. Prof Musdah juga pernah menjabat sebagai Kepala Divisi Riset Majlis Ulama Indonesia (MUI) (2000-2005). Ia juga aktif di ranah akademik dengan menjadi internasional visiting fellow di berbagai universitas di luar negeri.

    2. Neles Tebay

    Neles Tebay adalah pastur yang bertugas di Jayapura Papua Barat, tempat dimana dia dilahirkan. Sekarang ia menjabat sebagai Rektor Sekolah Teologi dan Filsafat Fajar Timur juga di Papua Barat dan menjadi Koordinator Jaringan Papua Damai (Papua Peace Network) yang mempromosikan dialog antara pemerintah Indonesia Dengan masyarakat asli Papua. Pada tahun 1998-2000 ia bekerja sebagai wartawan di harian The Jakarta Post. Gelar PhD di bidang Missiologi dari Pontifical Urban University di Rome diperolehnya pada bulan maret 2006.

    Beberapa buku yang ditulisnya: West Papua: The Strunggle for peace with Justice(The Catholic Institute for Internasional Relations/CIIR,London,2005);Interfaith Endeavours for Peace in West Papua (Aachen,Missio,2006);Papua: Its Problems and Possibilities for a Peaceful Solution,(SKP, Jayapura,2008);Dialog Jakarta-Papua: Sebuah Prespective from Papua, (Aachen/Germany,Missio,2009).

    3. Nia Di Nata

    Nia Di Nata adalah seorang sutradara dan produser film lulusan program produksi film dari New York University. Karirnya dimulai dari pembuat klip video dan iklan. Awal tahun 2000, Nia mendirikan perusahaan film independen Kalyana Sira Film. Film layar lebar pertama yang di sutradarainya adalah Cau Bau Kan (2001), sejak itukah hampir setiap tahun Nia memproduksi film-filmnya, kebanyakan sebagai produser, tapi perannya juga menjadi sutradara dan penulis skrip/cerita.

    Film yang di sutradarainya,Arisan!(2003) memenangkan banyak penghargaan dari dalam dan luar negeri. Juga film Berbagi Suami (2005) yang sangat membanggakan karena selain memperoleh banyak pengharggan juga diputar di 29 festival film didunia. Dibulan Mei 2004, Nia di undang untuk mengikuti program Cannes Young Directors, sementara pada bulan Juni 2004 Nia dipilih menjadi juri Festival Film Perancis di Indonesia. Bersama Kalyana Shira dan Ford Foundation Nia Di Nata mengembangkan program Change yaitu proyek yang bertujuan untuk membentuk sineas-sineas muda berbakat, khususnya di film dokumenter dari sutradara muda yang terangkum dalam judul Pertaruhan (2008),Conspiracy of Silence (2010)dan Working Girls(2011).

    4. Ramdan Malik

    Ramdan Malik, Produser Exekutif MNCTV (2006-sekarang). Ramdan sudah malang melintang di dunia jurnalistik sebagai: Produser Eksekutif, Produser, Reporter TV7, Reporter ANTV, Reporter Tempo Interaktif, Reporter Info Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia, Reporter Pusat Data dan Analisa Tempo, Reporter Tabloid Paron.

    Ia menulis buku yang berjudul Diaspora Gerakan Mahasiswa dalam Kesaksian Jurnalistik Menjelang Kejatuhan Presiden Abdurrahman Wahid (Jakarta: Pustaka Ciganjur,2001). Kiprahnya di dunia pertelevisian sejak 1996 menghasilkan karya-karya film dokumenter yang kritis dan penghargaan antara lain: Special Prize Jury Festival Film Dokumenter 2006 untuk satu episode program dokumenter sejarah TV7(Mengapa Marsinah?), Pemenang Komisi Penyiaran Award 2008 untuk features documentary TPI(Perempuan-Perempuan Beringharjo), Pemenang Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia - Exxon Awward 2008 untuk features documentary TPI (Perempuan Guru Bantu).

    5. Nani Buntarian

    Nani Buntarian adalah Seorang "e-activist" yang menggunakan internet dan konektivitas untuk mendukung para kegiatan aktivis perempuan. Sejak akhir tahun 90an, ketika belum banyak pengguna internet, Nani telah membangun jejaring maya bagi aktivis perempuan.

    Ketika berpartisipasi dalam berbagai pertemuan aktivis pertemuan di tahun 1998, Nani yang pada waktu itu bekerja di industri periklanan, memulai 'mailing list' untuk forum hak-hak perempuan, dan memperkenalkan medium internet pada para aktivis. Mailing list "perempuan" ini tumbuh dari hanya 8 menjadi 1300 anggota individu maupun institusi, dan suara digalang berkembang menjadi berbagai pergerakan, salah satunya adalah kongres koalisi perempuan. Nani kemudian di undang untuk menjadi pelatih dalam workshop dan training Asia-Pasific Women's Electronic Network. Bagi Nani yang juga pernah menjadi penggiat dalam bidang HIV/AIDS, internet harus digunakan untuk memberdayakan perempu, dan dengan teknologi ini ia meyakini perubahan sosial di Indonesia dapat dirintis oleh siapapun, bahkan warga biasa, setiap hari.

    Press Release

    Liputan Media

    Dokumentasi

    Pendukung