;



Anugerah Saparinah Sadli Tahun 2014


Tema: Perempuan Penyelenggara Kebijakan Publik Tingkat Lokal

Dalam rangka 10 tahun Anugerah Saparinah Sadli, di tahun 2014 panitia Anugerah Saparinah Sadli memilih tema Perempuan Penyelenggara Kebijakan Publik Tingkat Lokal. Tema ini dipilih karena pentingnya peran penyelenggara kebijakan publik di tingkat lokal dalam menjalankan kebijakan publik dasar seperti kesehatan, pendikikan dan infrastruktur desa yang sangat berarti bagi kelompok masyarakat miskin. Tema ini terinspirasi dari rekam jejak Tri Rasmaharini, Walikota Surabaya yang menjalani karir sebagai pejabat publik di Pemda Surabaya. Kami ingin menyoroti peran wanita gigih yang berkiprah sebagai penyelenggara kebijakan publik di tingkat lokal sebagai penghargaan atas dedikasi dan capaian mereka, serta untuk meningkatkan pemahaman publik akan pentingnya keterwakilan perempuan dalam posisi penyelenggara kebijakan publik di tingkat lokal.

Sambutan

Bapak, Ibu, Saudara-Saudara yang terhormat, Pertama-tama, atas nama Panitia Anugerah Saparinah Sadli 2014, kami ingin menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas kedatangan Bapak, Ibu, Saudara sekalian pada acara penyerahan Anugerah Saparinah Sadli 2014.

Tahun ini adalah tahun ke-10 sejak pertama kali Anugerah Saparinah Sadli disampaikan kepada pemenang pertama Anugerah Saparinah Sadli, Maria Ulfah Ansor, karena kiprahnya dalam melakukan penelitian tentang hak-hak reproduksi. Sejak itu setiap dua tahun sekali, Anugerah Saparinah Sadli mengajak publik untuk menyotoyi upaya menegakkan keadilan jender dari berbagai perspektif melalui penyampaian Anugerah Saparinah Sadli kepada perempuan-perempuan gigih dan luar biasa yang menunjukkan komitmen nyata dalam menegakkan keadilan jender.

Selama sepuluh tahun Anugerah disampaikan terutama pada para pegiat non-pemerintah, anggota masyarakat biasa yang melakukan kontribusi luar biasa bagi komunitasnya dan publik secara luas. Namun tahun ini kami juga ingin pula menghargai dan memberi pengakuan pada para perempuan yang berada di sisi pemerintahan, yang menyelenggarakan kebijakan di tingkat lokal. Kami menyadari bahwa perempuan-perempuan penyelenggara kebijakan publik di tingkat lokal merupakan ujung tombak pelaksanaan layanan publik dasar yang penting bagi kelompok masyarakat miskin, terutama kelompok perempuan. Berbagai data statistik menunjukkan bahwa capaian tujuan-tujuan pembangunan millennium (MDG) sangat bergantung pada kebijakan pemerintah di tingkat lokal.

Kami sangat bergembira bahwa masyarakat telah menyambut inisiatif kami tesebut dengan mencalonkan beberapa perempuan penyelenggara kebijakan publik di tingkat lokal yang secara gigih telah berkerja ‘beyond the call of duty’ untuk membawa perbaikan kualitas hidup bagi masyarakatnya. Malam ini kita akan berkenalan dengan tiga perempuan luar biasa yang menjadi finalis penerima Anugerah Saparinah Sadli dan sekaligus menjadi inspirasi baru bagu generasi yang akan datang: Juliana Ratuanak, Asnaini, dan Nurhayati.

Kami juga merasa sangat beruntung karena kehadiran Ibu Tri Rismaharini, Walikota Surabaya yang menjadi tokoh inspirasi bagi tema Anugerah Saparinah Sadli tahun ini. Pada kesempatan ini kami juga ingin menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya pada para sponsor dan semua pihak yang telah membantu kami mewujudkan acara ini baik dengan menyumbangkan waktu, tenaga dan juga dana. Bahkan pada tahun kesepuluh, Anugerah Saparinah Sadli masih mengalami tantangan besar dalam penggalangan dana sehingga dukungan terus menerus dari para sponsor dan teman-teman pendukung sangat berarti bagi kami untuk terus dapat memberikan tokoh-tokoh inspirasi baru bagi generasi penerus.

Tahun ini kami berupaya untuk melakukan penggalangan dana secara berbeda, yaitu dengan melakukan kegiatan penggalangan dana mandiri melalui acara penjualan kain Flores dan juga Penyelenggaraan Arts Bazaar yang didukung beberapa artis terkemuka. Hasil penggalangan dana mandiri ini telah berhasil menanggung lebih dari separuh keperluan Penyelenggaraan Anugerah Saparinah Sadli, yang merupakan kebanggaan tersendiri bagi kami. Kami terus mengimbau Bapak, Ibu, dan Saudara untuk memberikan dukungan bagi Penyelenggaraan Anugerah Saparinah Sadli di masa yang akan datang, baik dengan berpartisipasi dalam acara penggalangan dana mandiri maupun dengan berkontribusi langsung. Akhir kata, kami mohon minta maaf apabila ada kekurangan atau kesalahan yang telah dilakukan dalam Penyelenggaraan acara ini. Salam, Smita Notosusanto.

Profil Penerima Anugerah

  • Asnaini

  • Asnaini Mirzan, wanita kelahiran 24 Januari 1971, adalah Reje Kampung (Kepala Kampung) perempuan pertama di desanya yang memperjuangkan suara dan hak perempuan di Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah. Walaupun kultur di Kabupaten Aceh Tengah masih menganggap pemimpin hawa sebagai hal yang tabu, Asnaini telah mendobrak stigma tersebut di adat Aceh Tengah dengan kinerja dan jiwa kepemimpinan yang tinggi.

    Asnaini terpilih menjadi Reje Kampung Pegasing pada 2011 secara demokratis, dan sejak itu, sang ibu rumah tangga dengan tiga anak ini tak berhenti berjuang untuk menggerakan roda pemerintahan di desanya. Kegigihan Asnaini kerap menjadi perhatian di kalangan masyarakat serta media massa lokal dan nasional. Asnaini mendatangi rumah warga satu per satu untuk mengumpulkan KTP agar listrik bisa masuk desa Pegasing. Berkat tuntunannya, Dusun Luwung di Desa Pegasing kini terang benderang dialiri listrik, dimana tidak kurang dari 100 tiang listrik terpancang di Desa Pegasing.

    Dibawah kepemimpinan Asnaini, ia berhasil memperbaiki fasilitas posyandu dan mengalokasikan dana desa sebesar 50% untuk kepentingan perempuan dan anak. Meski hanya berstatus ibu rumah tangga dengan ijaza Sekolah Menengah Atas (SMA), Asnaini mampu membuat beberapa terobosan nyata di desanya, seperti pembangunan koperasi simpan pinjam perempuan, perbaikan jalan secara berkala, penampungan air bersih, hingga tempat pemandian khusus wanita.

  • Nurhayati

  • Nurhayati adalah Kepala Desa Perempuan pertama Pitusungu, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Berbekal Sarjana Sosial, sejak terpilih menjadi Kepala Desa pada tahun 2007, Nurhayati bercita-cita ingin meningkatkan taraf hidup penghidupan rakyat pesisir di Pangkep, terutama kaum perempuan yang bergantung sepenuhnya pada kegiatan nelayan dan budidaya rumput laut. Setelah menjadi Kepala Desa dua tahun berturut-turut, Nurhayati menggagas program pengembangan potensi desa dengan membentuk kelompok kerja yang mengolah makanan berbahan dasar rumput laut.

    Pada tahun 2011, ia membentuk kelompok Pita Aksi, akronim dari Pitusunggu Beraksi. Pita Aksi adalah kelompok unit usaha yang bertugas untuk meningkatkan taraf hidup anggotanya dengan membuat sebuah unit usaha yang dikelola bersama-sama, dan hasilnya pun akan dibagi rata. Baru-baru ini jerih payah Nurhayati juga memperoleh perhatian dari Pemerintah Kabupaten Pangkep yang kemudian mengucurkan modal kerja sebesar Rp 100 juta untuk pengadaan alat produksi. Nurhayati juga proaktif dalam memberikan suara dan kesempatan bagi perempuan di desanya, dengan cara mendorong kaum perempuan untuk mengajukan proposal kegiatan untuk dibiayai dengan dana desa, serta memprioritaskan proposal kegiatan dari kelompok perempuan.

  • Juliana Ratuanak

  • Saat ini, Juliana Ratuanak menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku, Tenggara Barat. Seusai menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Kristen Maranathan Bandung tahun 2000, perempuan kelahiran Saumlaki, Maluku, ini langsung menjadi dokter PTT yang ditempatkan di Puskesmas Kecamatan Wer maktian, Maluku Tenggara. Karir Juliana semakin meningkat ketika ia diangkat menjadi Kepala Puskesmas Saumlaki di Kecamatan Tanimbar Selatan, Maluku Tenggara Barat pada tahun 2009, dan kemudian Kepala RSUD dr. P.P. Margretti, Saumlaki tahun 2010.

    Salah satu inisiatif yang dilakukan Juliana adalah membangun rumah tunggu berbasi gugus pulau dan kearifan lokal untuk mencegah kematian ibu dan anak saat melahirkan. Dengan adanya rumah tunggu yang dibangun di beberapa pulau sebagai titik pusat layanan kesehatan bagi ibu hamil, maka mereka tidak perlu menempuh jarak jauh ke Saumlaki dalam cuaca buruknamun dapat berhenti di rumah tunggu untuk memperoleh layanan kesehatan sampai waktu tiba bersalin. Data Dinas Kesehatan Pemerintahan Kabupaten MTB menunjukkan bahwa angka kematian ibu dan anak menurun sejak adanya rumah tunggu, yaitu dari 21 ibu dan 76 bayi di 2007 menjadi 4 ibu dan 27 bayi di tahun 2012.

    Profil Juri

    1. Abdul Gaffar Karim

    Abdul Gaffar Karim adalah Staff Pengajar sekaligus Ketua Program S1 di Jurusan Politik dan Pemerintahan, FISIPOL UGM. Setelah lulus dari Sarjana d pada tahun 1994, ia kemudian melanjutkan pendidikan pasca sarjananya di Filinders University dan Curtin University di Australia. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Direktur Penelitian dan Publikasi di Program Pasca Sarjana Otonomi Daerah dan Politik Lokal UGM serta Direktur Pusat Penelitian Politik dan Pemerintahan UGM. Fokus penelitian dan publikasinya adalah pada isu pemerintah daerah, layanan publik dasar, dan demokrasi lokal.

    2. Imam Prasodjo

    Imam Prasodjo adalah Staf Pengajar pada Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Namun ia lebih populer di mata politik sebagain pegiat sosial yang gigih memperjuangkan hak-hak masyarakat miskin, terutama di bidang pendidikan. Ia mendirikan Yayasan Nurani Dunia pada tahun 1999 yang awalnya ditujukan untuk membantu korban bencana alam, namun kemudian dikenal sebagai lembaga yang menggalang bantuan untuk membangun gedung-gedung sekolah. Sang peraih penghargaan ‘Hero for Special Achievement’ dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2014) ini juga juga giat dalam berbagai Komite dan Dewan seperti Majilis Dewan Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan; anggota Badan Pemberdayaan Masyarakat Jakarta, serta anggota Badan Pertimbangan Permasyarakatan, Kementerian Hukum dan HAM.

    3. Najwa Shihab

    Najwa Shihab adalah Wakil Pemimpin Redaksi Metro TV. Ia memulai karirnya sebagai reporter RCTI di Jakarta dan bergabung Metro TV pada tahun 2000. Selama 14 tahun terakhir, ia telah meliputi berbagai berita dan mewawancara tokoh-tokoh penting di Indonesia. Najwa telah menerima berbagai penghargaan atas pencapaiaannya di bidang Jurnalistik, antara lain Most Progressive Figure dari majalah Forbes (2011), Young Global Leader dari World Economic Forum (2011), dan National Award for the Journalistic Contribution to Democracy dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

    Press Release

    Liputan Media

    Dokumentasi

    Panitia Anugerah Saparinah Sadli 2014